Wednesday, January 4, 2017

Tantrum pada Anak


Pernahkah Anda sebagai orang tua mengalami kegalauan dan merasa bingung ketika anak marah, menangis, bahkan sampai berguling-guling di lantai?

Salah satu masalah yang sering dihadapi orang tua yang memiliki anak-anak adalah TANTRUM.
Tantrum adalah luapan emosi kemarahan pada anak yang tidak terkontrol. Pada umumnya tantrum terjadi pada anak-anak yang berusia 1 sampai 3 tahun.  Perilaku yang ditunjukkan pada saat tantrum antara lain : meraung, menjerit, menangis, menghentakkan kaki bahkan berguling-guling di lantai.

Nah, tantrum harus diatasi dengan benar dan bijaksana sejak dini. Bila tidak, maka anak akan menggunakan tantrum untuk memanipulasi orang tua dan orang-orang tertentu. Anak pun akan tumbuh menjadi anak yang egois.

Monday, October 24, 2016

Gaya Belajar Anak


Lain lubuk lain belalang. Lain anak lain gaya belajarnya. Supaya tidak salah gaya, yuk cari tahu apa gaya belajar yang cocok dengan anak-anak kita. Ini contekannya!

Sama halnya dengan keunikan tiap individu, masing-masing anak ternyata punya gaya belajar tersendiri. Meski bersekolah di sekolah yang sama, duduk di kelas yang sama, gaya belajar tiap anak ternyata tidak sama. Perbedaan itu bahkan ada pada anak-anak dari satu keluarga. Seperti kakak, adik bahkan saudara kembar sekalipun.

Saat mengikuti pelajaran di kelas, ada murid yang begitu tekun menyimak meski sang guru menyampaikan materi pelajaran seperti orang berceramah berjam-jam. Ada yang terkesan hanya memerhatikan sepintas lalu, meski sebetulnya mereka membuat catatan-catatan kecil di bukunya. Namun banyak juga anak yang merasa bosan.

Ada anak yang lebih mudah menangkap isi pelajaran jika disertai praktik. Anak semacam ini lebih suka berkutat di laboratorium ketimbang mendengar penjelasan guru. Sedangkan anak lain, mungkin lebih tertarik mengikuti pelajaran yang disertai berbagai aspek gerak. Contoh, guru yang menerangkan materi pelajaran kesenian sambil sesekali diselingi nyanyian dan tepuk tangan.

Ada juga anak yang harus bersemedi dan menutup pintu kamar rapat agar bisa konsen belajar. Sebaliknya, cukup banyak juga anak yang mengaku justru terbuka pikirannya bila belajar sambil mendengarkan musik.

Nah,
sudahkah orangtua mengenali gaya belajar anak? Anak akan mudah menguasai materi pelajaran dengan memakai cara belajar mereka masing-masing.

From Visual to Kinestetik

Menurut DePorter dan Hernacki (2002), anak belajar dengan menyerap, mengatur, dan mengolah informasi. Berdasarkan ini, ada tiga jenis gaya belajar yang digunakan seseorang dalam memproses informasi, yaitu visual, auditory, dan kinestesis.

Tuesday, August 23, 2016

Parenting Class - RAISING KIDS


Telah dibuka kelas pelatihan orangtua untuk mendidik anak.
Kelas Raising Kids untuk orangtua yang memiliki anak usia 6 - 12 tahun.
( 4 x pertemuan )

Hari /Tanggal :
Sabtu, 27 Agustus, 10 September, 1 & 15 Oktober 2016

Tempat : GBI WTC Serpong

PIC : Kak Christine - 0817 4807374

Saturday, August 6, 2016

Membetuk Konsep Diri Anak


Konsep Diri mempunyai peranan penting dalam menentukan perilaku seorang anak.
Pembentukan Konsep Diri sangat dipengaruhi oleh orangtua.
Bagaimana orangtua dapat membantu membentuk Konsep Diri yang positif pada diri anak?

Ikutilah Mini Seminar Petra Parents Club

Topik : MEMBANGUN KONSEP DIRI ANAK
Hari : Sabtu. 6 Agustus 2016
Jam : 15.30 - 17.00
@ WTC Serpong

PIC : Kak Christine - 0817 4807374

Saturday, May 14, 2016

RAHASIA DI BALIK PERILAKU ANAK



Seringkali orangtua kewalahan menghadapi perilaku anak-anaknya.
Mengapa anak : suka marah? suka membantah? sering takut & khawatir? 
sering mengeluarkan kata-kata kasar? tidak percaya diri? memiliki kebiasaan buruk?
Ada pemicu yang menyebabkan anak memiliki perilaku tertentu.
Apakah itu & bagaimana mengatasinya?

Temukan jawabannya dalam :
MINI SEMINAR
Topik : RAHASIA DI BALIK PERILAKU ANAK

Sabtu, 14 Mei 2016
Jam : 15.30 - 17.00
@GBI WTC Serpong

Registrasi : 0817 4807374

Sunday, March 20, 2016

Mengatasi Stress pada Anak


Stres adalah ketika seseorang merasa tidak mampu memenuhi tuntutan atau harapan besar yang dibebankan pada dirinya, oleh orang lain, lingkungan ataupun diri sendiri.
Nah, di dalam kehidupan sehari-hari,  apabila ada kondisi yang tidak diharapkan terjadi, maka seseorang akan segera berusaha mengatasinya untuk mencapai keadaan seimbang. Bila usaha tersebut gagal, ia akan mengalami tekanan.
Kemudian, jika tekanan itu berubah menjadi penderitaan dan putus asa, maka timbulah masalah dalam kesehatan dan tingkah laku, yang berbeda dari perilaku “normal” sebelumnya. 

Banyak orangtua tidak menyadari bahwa anaknya stres.  Sesungguhnya, semua anak pernah memperlihatkan tanda stres. Tetapi jika orangtua melihat perubahan perilaku selama lebih dari dua minggu, orangtua perlu waspada. Jangan menunggu sampai stres pada anak kita berkembang menjadi depresi. Apabila tidak diatasi dengan baik akan berdampak pada perkembangan selanjutnya.
Apalagi jika seorang anak mengalami sakit dalam waktu lama dan setelah dikonsultasikan ke dokter tidak ditemukan penyebab pastinya, maka ada kemungkinan pernyakit tersebut bukan disebabkan virus, bakteri atau kerusakan pada tubuh melainkan disebabkan pikiran anak yang sedang stres.

Apabila anak kita mengalami stress, bagaimana cara mengatasinya?
Hal ini sebagian besar bergantung pada apakah kita dapat menentukan apa yang menjadi sumbernya. Jika sudah diketahui sumber dari stres itu, maka kita akan dapat langsung menangani masalahnya. Tetapi, jika sumber tekanan itu masih tersembunyi atau belum jelas, ada beberapa hal yang dapat dilakukan oleh orangtua untuk membantu anak mengatasi stress. Antara lain :